Efektivitas Konseling Kelompok Gestalt Teknik Empty Chair dan Role Reversal untuk Meningkatkan Self Esteem Siswa

       Artikel ini diterbitkan pada jurnal Jurnal Ilmiah Mandala Education (Pasca Sarjana Universitas Negeri Semarang) pada volume 7 nomor 2 April 2021 pada halaman 142-147, yang dtulis oleh Maskhairani Harahap, Mungin Eddy Wibowo, dan Mulawarman. Artikel ini bisa kalian dapatkan di http://ejournal.mandalanursa.org/index.php/JIME/index dan telah terakreditasi Peringkat 4 (No. SK: 36/E/KPT/2019).

          Tahukah kalian? Penelitian ini memiliki tujuan  untuk  memberikan informasi mengenai  keefektifan  dari  konseling kelompok  gestalt  teknik  empty  chair  dan  role  reversal  di  dalam  meningkatkan  self esteem  siswa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen dengan desain  pretest and multiple posttest.

       Di dalam artikel ini dijelaskan juga definisi pengertiannya seperti self esteem yang di dalam kehidupan sehari-hari bisa dikatakan dengan harga diri tentang kesadaran dari dalam diri untuk menghargai diri sendiri yang dinilai berlandaskan perilaku individu yang bersangkutan. Selain itu juga dikatakan self esteem merupakan proses evaluasi secara menyeluruh terhadap diri individu (Boyd & Bee 2007). Masalah self esteem itu pada individu didapatkan dari adanya perbedaan antara pandangan yang dimiliki dengan konsep idealnya terhadap dirinya (Murk, 2006). Perbedaan itu dapat mengakibatkan seseorang menampilkan perilaku tertentu yang dia inginkan dan dia tampilkan kepada orang lain karena self esteem ini memiliki hubungan dengan kepercayaan diri. Konsep harga diri ini ada kaitanya dengan tiga konsep yang merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Hal tersebut adalah self concept, self image, dan ideal self. Dimana seseorang yang memiliki self esteem tinggi lebih bisa cakap dan mudah untuk menangani ataupun mengatasi permasalahan di hidupnya karena mereka ada keinginan lebih untuk berani mencoba melakukan sesuatu yang baru dan belajar dari kesalahan yang dibuat untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan di dalam hidup. Sedangkan pada seseorang yang memiliki custom rendah mereka mempunyai perasaan inferior merasa gagal dalam berhubungan sosial depresi dan lebih bergantung kepada orang lain.

       Sebuah penelitian yang dilakukan oleh trzeshieeski (Simpson & Scott, 2009) menunjukkan bahwa remaja yang memiliki self esteem rendah cenderung rentan mengalami masalah kesehatan fisik dan mental di masa dewasanya sedangkan remaja yang memiliki sel esteem tinggi mengalami hal sebaliknya.

       Sesuai dengan pemaparan di atas untuk lebih lanjut peneliti melakukan studi pendahuluan di SMA kesatrian 1 Semarang dengan hasil wawancara kepada guru BK diketahui ada banyak siswa kelas 11 yang memiliki tingkat self esteem dengan kategori sedang sampai rendah ditunjukkan dengan beberapa sifat mereka yang mengalami kesulitan untuk mengontrol dan mengatur tingkah laku,  takut dan cemas untuk mengeluarkan pendapat, kurangnya rasa percaya diri, mudah tersinggung, mudah marah dan merasa tidak dihargai, serta kurang bisa bekerja dalam kelompok hingga tidak mampu untuk menerima kritikan dari orang lain. Untuk membantu siswa dalam meningkatkan self esteem mengenai dengan kemampuan akademiknya di sekolah maka dapat digunakan konseling kelompok gestalt sebagai intervensinya.

Dalam melakukan penelitian ini peneliti menggunakan sampel. Sampel dalam penelitian ini yaitu siswa kelas 11 di SMA kesatrian 1 Semarang yang memiliki kriteria self esteem rendah sebanyak 14 orang dengan teknik pengumpulan data menggunakan adopsi dari instrumen coopersmith self esteem inventory atau CSEI. Pada penelitian ini menggunakan skala tertutup dan menggunakan skala likert.

       Dalam penelitian ini peneliti menggunakan 2 kelompok eksperimen. Kedua eksperimen diatur secara intensif sampai kedua kelompok tersebut mempunyai karakteristik yang mendekati atau sama. Kelompok eksperimen yang dipilih ini kemudian diberikan pretest yaitu pemberian angket self esteem selanjutnya diberikan treatment untuk melihat seberapa besar pengaruh  kelompok konseling Gestalt teknik empty chair dan role reversal dapat meningkatkan self-esteem siswa.

       Bagaimana cara mengetahui keefektifan konseling kelompok gestalt teknik empty chair dan role reversal untuk meningkatkan self esteem siswa? Untuk mengetahui keefektifan konseling kelompok gestalt teknik empty chair dan role reversal untuk meningkatkan self esteem siswa peneliti melakukan uji hipotesis untuk menjawab rumusan masalah yang sudah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya dengan menggunakan SPSS 23 berdasarkan uji repeated measure menggunakan anova untuk menjawab hipotesis pengertiannya.

       Hasil dari penelitian ini berdasarkan tabel 1 di artikel di ketahui bahwa self esteem pada siswa SMA kesatrian 1 Semarang mengalami peningkatan saat di berikan treatment teknik empty chair dan role reversal saat pretest, posttest dan follow up.

       Berdasarkan  hasil  penelitian dalam artikel ini dapat ditarik kesimpulan  bahwa  konseling  kelompok gestalt dengan teknik  empty  chair  dan  role  reversal efektif dalam menaikkan self-esteem siswa. Akan tetapi  bila  dilihat dari hasil  antar  waktunya  atau whitin  subject,  yang  lebih  berpengaruh  dalam peningkatan self-esteem siswa adalah teknik empty  chair.  Menurut  Thomson  (dalam komalasari,  dkk,  2014)  teknik  empty  chair efektif  digunakan  untuk  membantu  konseli karena dapat mempelajari dan memperkuat konflik antara topdog dan underdog pada dalam diri  klien.  Topdog  dan  underdog  ini merupakan  perumpamaan  pada  penggambaran konflik  internal  dalam  diri  klien  antara introyeksi dan perlawanan terhadap introyeksi tersebut. 

       Topdog  mendeskripsikan “apa yang harus atau seharusnya dilakukan” sedangkan underdog  mendeskripsikan penolakan dan pemberontakan terhadap introyeksi ini (Agustiani, 2017). Berdasarkan  penelitian  yang  dicapai oleh  peneliti  dapat memberikan bukti bahwa pengembangan strategi layanan bimbingan dan konseling yang dapat menyentuh area ini sangat penting jika ingin meningkatkan harga diri siswa.  Melalui strategi ini diharapkan dapat membantu siswa untuk meningkatkan  self esteem agar menjadi pribadi yang lebih tenang ketika berinteraksi dengan teman sebaya, orang tua, kakak kelas, karyawan dan guru.  Selain  itu  dengan meningkatnya  self-esteem  siswa  akan  merasa lebih happiness  (kebahagiaan) atau senang selama mengikuti setiap kegiatan yang ada di sekolah serta lingkungan sosialnya.

Bagaimana tujuan teknik empty  chair?

       Melihat dari tujuan  teknik  empty  chair yaitu untuk mengakhiri atau menghentikan masalah-masalah dengan jalan memutuskan urusan-urusan yang tidak selesai dari masa lalu konseli. Jadi melalui konseling gestalt teknik kursi kosong konseli diarahkan untuk mampu berempati serta mampu menuntaskan masalah-masalah di masa lalunya.

Bagaimana kekurangan dan kelebihan pada teknik empty  chair?

       Seperti yang diketahui teknik ini menekankan penyelesaian masalah yang berasal dari masa lalu dengan frustator untuk mengungkapkan perasaan terpendam agar mencapai kesadaran diri. Artinya pengungkapan perasaan menjadi bagian penting yang tidak bisa dihindarkan. Setiap teknik pasti memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penggunaannya. Nah, kelemahan teknik ini antara lain tidak semua konseli mampu memerankan menjadi orang lain, konseli sering kali berbohong pada perasaannya sendiri sehingga menghambat penyelesaian masalah dalam teknik ini, ketidaksiapan konseli untuk mengekspresikan sikap, perasaan, serta pikirannya secara terbuka, lemahnya konsentrasi pada saat konseling berlangsung, dan kurangnya kemampuan konselor yang berperan sebagai frustator.

Lalu, bagaimana kekurangan pada teknik empty  chair?

       Selain ada kekurangan pastinya ada kelebihannya. kelebihan teknik tersebut adalah konseli berperan aktif dalam konseling sebagai topdog maupun underdog, teknik ini dapat memotivasi konseli untuk berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya, dan teknik ini juga digunakan untuk membantu konseli yang mengalami masalah-masalah internal yang hebat. Misalnya rasa kurang percaya diri atau minder dan tertekan oleh keadaan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Harahap, Maskhairani, Mungin Eddy Wibowo, Mulawarman.(2021). Efektivitas

Konseling Kelompok Gestalt Teknik Empty Chair dan Role Reversal untuk Meningkatkan Self Esteem Siswa. Jurnal Imiah Mandala Education, (7)2. 142-147.

Kusumawati ,Eny. (2019). Teknik empty chair untuk mengurangi ketidakmampuan menjaga hubungan pertemanan dalam antisocial personality disorder pada mahasiswa. Jurnal Prosiding SNBK (Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling) Universitas Tunas Pembangunan Surakarta, 3(1), 49-55.

Bagikan ke

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *