Diterbitkan pada Indonesia Journal of Guidance and Conseling: Theory and Application pada volume 1 nomor 1 pada halaman 30-35, penulisnya yakni Susanti Dyastuti. Diterima januari 2012, disetujui februari 2012 dan dipublikasikan a.gustus 2012.
Apakah kalian tahu? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya dan keberhasilan dalam mengatasi perilaku agresif siswa pelaku bullying melalui konseling Gestalt teknik kursi kosong. Perilaku agresif dibedakan menjadi dua jenis, yaitu agresif fisik dan agresif verbal. Agresif fisik meliputi menyerang secara fisik seperti memukul, menendang, melempar, meninju, melukai, merampas dan perilaku yang bertujuan untuk menyakiti secara fisik dan verbal meliputi menyerang dengan kata-kata seperti menghina, memaki, mengumpat, mcngolok-olok, menyebar fitnah, mengadu domba, mengancam, main perintah, berteriak-teriak dan berbicara keras pada saat yang tidak semestinya. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan. Dalam penelitian tindakan ini pengamat dilakukan meliputi pengamatan proses dan hasil konseling berupa perubahan perilaku agresif klien. Pengamatan dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi. Subyek penelitian ini adalah dua orang siswa pelaku bullying dan melakukan perilaku agresif.
Penelitian ini dilakukan dengan 2 siklus, dari kedua siklus tersebut menunjukkan hasil yakni, siklus 1 perilaku agresif fisik berada pada kriteria rendah dengan persentase 43,05% dan kemudian terjadi perubahan pada siklus 2 yaitu menjadi perilaku agresif fisik dengan kriteria sangat rendah dengan persentase 30,28%, begitu juga pada agresif verbal dalam siklus 1 berada pada kriteria cukup dengan persentase 65% dan pada siklus 2 berubah menjadai kriteria rendah dengan persentase 46,87%. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku agresif fisik maupun agresif verbal pada klien mengalami perubahan dengan penurunan tingkat persentasesetelah diberikan konseling Gestalt teknik kursi kosong.
Bagaimana dengan kekurangan dari teknik kursih kosong pendekatan konseling Gestalt? Seperti yang kita ketahui bahwa teknik kursih kosong menggunakan dua kursi untuk membantu mengatasi konflik. Dimana satu kursi menjadi topdog (yang seharusnya) dan kursi yang lain menjadi underdog (yang saya inginkan). Konseli diminta untuk mengatakan argument yang terbaik dengan posisi topdog (yang seharusnya) dan pindah kekursi underdog (yang saya inginkan). Kemudian konseli diminta berargumen sampai mencapai poin dimana konseli mencapai integrasi dari apa yang seharusnya (topdog) dan apa yang diinginkan (underdog). Artinya penggunaan topdog dan underdog menjadi bagian penting yang tidak bisa dihindarkan dalam penerapan kursih kosong.
Bagaimana dengan kelebihan dari teknik kursih kosong pendekatan konseling Gestalt? Dengan menggunakan pendekatan konseling Gestalt klien mempunyai kesadaran untuk merubah perilakunya tanpa paksaan dari siapapun karena sasaran utama terapi Gestalt adalah pencapaian kesadaran dan melalui teknik kursih kosong klien mampu melampiaskan perasaanya, dengan berperan sebagai topdog maupun underdog, Pelaku dapat melampiaskan dan mengungkapkan semua emosinya, sehingga untuk perilaku selanjutnya pelaku dapat mengontrol perilakunya.
Simpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah: 1. Teknik kursih kosong dalam pendekatan konseling Gestalt efektif dalam mengatasi perilaku agresif pada pelaku Bullying siswa; 2. Perilaku agresif terbagi menjadi dua agresif fisik dan agresif verbal. Agresif fisik meliputi perilaku yang bertuan untuk menyakiti secara fisik sedangkan verbal perilaku yang menyerang melalui kata-kata seperti menghina, mengolok-olok, dsb. ; 3. Adanya peristiwa bullying disekolah membuat sebagian siswa merasa tidak aman dan itu menjadi persoalan yang penting yang harus dibereskan karena seharusnya sekolah menjadi lembaga pendidikan yang dapat mengembangkan potensi diri siswa. (ANS)
DAFTAR PUSTAKA
Dyastuti,Susanti. Mengatasi Perilaku Agresif Pelaku Bullying Melalui Pendekatan Konseling Gestalt Teknik Kursi Kosong. Indonesia Journal of Guidance and Counseling: Theory and Aplication.Vol.1. no.1. 2012. (30-35).
