PENERAPAN KONSELING KELOMPOK TEKNIK REINFORCEMENT POSITIF PADA SISWA YANG BROKEN HOME UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR

PROFIL ARTIKEL

Artikel ini diterbitkan pada jurnal Basicedu Universitas Pahlawan pada volume 6 nomor 1 Tahun 2022 pada halaman 315-323 yang berjudul “Konseling Kelompok Teknik Reinforcement Positif untuk Meningkatkan Motivasi Belajar  Siswa Broken Home” (Research & Learning in Elementary Education), penulis artikel ini yaitu Durrotunnisa, Ratna Nur Hanita yang memiliki alamat E-mail: durrotunnisafkip@gmail.com , ratnanurhanitabh26@gmail.com dari Universitas Tadulako, Indonesia.

ULASAN DAN SINOPSIS

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi belajar pada siswa yang broken home dengan menggunakan layanan konseling kelompok teknik reinforcement positif. Peneliti menggunakan teknik penguatan positif karena siswa yang mengalami broken home memiliki karakteristik yang mana ia jarang mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, sehingga dengan penguatan positif dari guru bimbingan dan konseling ini diharapkan dapat membantu siswa meningkatkan motivasi belajar dan meningkatkan keinginan mereka untuk menggapai cita-cita. Subjek penelitian ini terdiri dari 5 siswa kelas VIII yang memiliki kriteria motivasi belajar rendah dan memiliki catatan khusus, yaitu mereka yang berasal dari keluarga broken home.

Jenis penelitian ini adalah PTBK (Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling) menggunakan model Kemmis dan MC Taggart yang perlu dilakukan dalam 2 siklus, dimana setiap siklusnya terdiri dari tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek dari penelitian ini yaitu 5 siswa dari kelas VIII yang memiliki kriteria mempunyai motivasi belajar yang rendah dengan kriteria khusus yaitu mereka yang berasal dari keluarga broken home. Penelitian ini menggunakan 2 siklus, hasil siklus yang pertama adalah presentasi motivasi belajar pada siswa broken home mengalami peningkatan sebesar 15,99% setelah dilakukan siklus I. Serta hasil siklus yang kedua yaitu persentase motivasi belajar pada siswa broken home mengalami peningkatan sebesar 66,33%.

KEKURANGAN

Penguatan (Reinforcement) adalah suatu respon perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan perilaku itu terulang kembali. Teknik reinforcement positif ini menekan pada peningkatkan motivasi belajar siswa sehingga perlu adanya penguatan agar siswa bisa menigkatkan motivasi belajar. Kekurangan dari teknik reinforcement positif ini adalah jika guru bimbingan konseling terlalu banyak memberikan penguatan terhadap siswa maka bisa mengakibatkan fatal. Seperti penguatan berupa hadiah secara terus menerus dapat mengakibatkan siswa menjadi ketergantungan terhadap hadiah tersebut, jadi siswa melakukan perubahan baik bukan karena ia ingin mengubah perilaku menjadi lebih baik tetapi karena ia menginginkan hadiah yang diberikan jika ia melakukan perilaku tersebut. Jadi penguatan (reinforcement) ini lebih efektiv digunakan dalam waktu yang singkat agar siswa tidak melakukan suatu kebaikan demi mendapatkan imbalan. Selain itu pemberian penguatan ini bersifat seerhana dalam pelaksanaannya, tetapi jika pemberian penguatan tersebut tidak sesuai dengan tindakan yang dilakukan maka siswa juga engga melakukannya.

Sedangkan kekurangan dari penelitian ini yaitu peneliti mengalami terkendala oleh sampel, karena jumlah kasus yang ditangani dalam kategori yang sedikit yaitu 5 siswa dan mereka berada dalam lingkungan pedesaan sehingga untuk kasus yang sama dengan konteks yang berbeda kemungkinan perlu dilakukan dengan teknik yang berbeda.

KELEBIHAN

Prinsip dari Teknik Penguatan (Reinforcement) yaitu kehangatan, dan menghindari respon negative. Kehangatan yaitu kehangatan yang diberikan oleh guru pembimbing kepada siswa ditunjukkan dengan suasana, mimik dan gerakan badan. Menghindari respon negative yaitu meskipun hukuman dan teguran merupakan hal yang sudah biasa tetapi yang harus dihindari guru pembimbing yaitu menggunakan kata-kata yang kasar, menghina, mengejek karena bisa mematahkan semangat siswa untuk mengubah perilaku yang baik. Kelebihan dari teknik penguatan (reinforcement) yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa terhadap materi yang diajarkan disekolah, dapat meningkatkan perhatian kepada siswa yang mengalami broken home, dapat mendorong siswa agar melakukan perbuatan yang baik serta produktif, menumbuhkan rasa percaya diri siswa, meningkatkan cara belajar siswa yang aktif, dan mendorong siswa agar terus meningkatkan cara belajarnya secara mandiri atau kelompok.

Sedangkan kelebihan dari penelitian ini adalah peneliti memberikan informasi yang lengkap tentang penerapan teknik reinforcement positif, akibat yang muncul pada siswa akibat broken home serta faktor-faktor yang menjadikan siswa menurun motivasi belajarnya. Penelitian ini juga menggunakan metode yang terstruktur sehingga mendapatkan hasil yang valid. Dan penelitian ini juga memberikan saran kepada guru (konselor) untuk menerapkan teknik reinforcement positif diterapkan kepda siswa karena sebelumnya masih konsep keilmuan.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah Teknik Penguatan (Reinforcement) efektif digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar pada siswa broken home. Efektifitas Teknik Penguatan (Reinforcement) ini juga di sebabkan oleh ketegasan dan kesepakatan antara guru bimbingan dan konseling dengan siswa yang menjadi subyek peneliti untuk melaksanakan layanan dengan baik. Beberapa siswa memiliki motivasi belajar yang minim akibat broken home, sebelumnya guru pembimbing sudah mengantisipasi dan mengatasi permasalahan motivasi belajar siswa dengan pemberian layanan konseling kelompok tetapi belum berhasil dengan baik. Maka dari itu peneliti memberikan treatment dengan teknik penguatan (reinforcement) pemberikan hadiah baik barang maupun pujian untuk menguatkan perilaku positif. Penyebab dari menurunnya motivasi belajar pada siswa broken home karena pemberian perhatian orang tua yang sebelumnya diterima sebelum bercerai (kedua orang tua nya sangat memperhatikan proses belajarnya, mengantar jemput sekolah, memberikan uang saku dan berkumpul bersama) tidak lagi didapatkan anak Ketika orangtua sudah bercerai. Akibatnya siswa tersebut tidak bersemangat belajar, jarang masuk sekolah, tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR), tidak masuk tanpa keteranga (alpa), dan tidak mengikuti pelajaran saat kelas berlangsung. Dengan munculnya perilaku-perilaku tersebut menjadikan siswa mengalami penurunan dalam motivasi belajarnya untuk itu peneliti memberikan treatment dengan teknik penguatan (reinforcement) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Jadi dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok teknik reinforcement positif dapat meningkatkan motivasi belajar pada siswa broken home di SMP Negeri 4 Bolano Lambunu. (DAL)

DAFTAR PUSTAKA

 Durrotunnisa, D., & Hanita, R. N. (2022). “Konseling Kelompok Teknik Reinforcement Positif untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Broken Home”. Jurnal Basicedu 6(1), 315-323.

https://jbasic.org/index.php/basicedu/article/view/1823

Bagikan ke

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *