
Malang – Rabu, 30 Agustus 2023. Pendidikan dijelaskan sebagai upaya serius, sungguh-sungguh. Jadi perlu landasan filosofis, artinya sebelum upaya pendidikan dilakukan maka perlu pemikiran yang serius, ujar Prof. Dr. Sa’dun Akbar, M.Pd. Penjelasan ini dipaparkan pada pertemuan perkuliahan mata kuliah Wawasan Pendidikan didampingi oleh Prof. Dr. Henny Indreswari , M.Pd. Penting disebutkan bahwasanya menjadi Pendidik menanggung resiko yang tinggi, sehingga perlu pemahaman yang mendalam.
Pahami Filsafat – teori pendidikan – proses Pendidikan (praktik)/kebijakan, menjadi utama untuk dikuasai oleh calon ilmuan, dalam hal ini menjadi mahasiswa program doktor. Sekilas dijelaskan, Filsafat behaviorisme, perubahan ditentukan dari eksternal dan bersifat mekanik menjadi dasar lahirnya kurikulum Pendidikan tahun 1974 (berbasis tujuan). Lalu berkembang pada era 1980-an -teori yang berorientasi kognitif (kurikulum content base), input-proses-output. Maka pada rentang 1984 – 1994 muncullah buku-bukb pelajaran yang berbasi materi dan ceramah dalam penyampaiannya. Pada Era 2000an, konstruktifistik. Pembelajaran aktif, model, berpusat pada siswa.
Lebih Lanjut Prof. Dr. Sa’dun Akbar, M.Pd, Pengembangan Teori : 1) Berdasarkan dari ajaran agama, dipraktikkan pada Pendidikan; 2) Berdasarkan dari filsafat,dipraktikkan pada Pendidikan; 3) Berdasarkan teori terdahulu. Disinggung juga, salah satu bukti manusia berpikir yaitu bisa menciptakan kreativitas. Sedangkan, Orang yang berakal : mensinergikan pikiran dan hati.
Gairah belajar tidak sampai disitu, selanjutnya mata kuliah Filsafat Ilmu oleh Prof. Dr. Fattah Hanurawan , M.Si., M.Ed. Diawali dengan canda tawa khas Prof Fattah, Filsafat ya bukan Pilsahwat? Lalu beberapa akronim anti seperti Senior = Senang Istri Orang, Macan = mama cantik, Utang boleh = kalua ngutangi wanita lain? Para mahasiswa merespon dengan gelak tawa atas hal tersebut.

Selanjutnya baru mulai membahas tentang filsafat ilmu itu sendiri yang mana ada: 1. Ordinary knowledge; 2. Sciencetyfic knowledge; 3. Pengetahuan Filsafat; 4. Religius knowledge. Lalu salah satu quote yang menarik yakni : Pasangan anda baik, anda Bahagia, Pasangan anda tidak baik, anda filsuf.
Pada sesi terakhir yakni teori dan model BK oleh Prof. Dr. M. Ramli , M.A. mengenai penjelasan teori yakni separangkat preposisi tentang sesuatu (terkait satu sama lain) yang berfungsi untuk memprediksi dan sebagai alat menjelaskan fenomena yang terjadi. Teori digunakan untuk menyebut sebuah proposisi sebagai teori atau sebuah tahapan, prosedur juga merupakan teori. Disisi lain, model : kongkritisasi dari teori, model dijelaskan sebagai teori yang cakupannya lebih singkat (berisi tahapan, prosedur, proses). teori sebagai sebuah model yang digunakan konselor untuk membimbing menyusun hipotesis tentang kemungkinan formasi solusi penyelesaian masalah
Pada pembahasan selanjutnya, dijelaskan beberapa contoh dari problematika yang ditemui dari sisi kognitif, afektif maupun perilaku. Diklasifikasikan menjadi konseling berorientasi kognitif, konseling berorientasi afektif, dan konseling berorientasi perilaku.

Konseling berorientasi kognitif menitikberatkan penyelesaian masalah konseli pada pikiran yang irasional, pikiran yang salah, pikiran yang keliru. Seperti petikan konseli “saya berpandangan bahwasanya semua Wanita racun dunia”, dan bisa dirubah menjadi Wanita ada yang baik, sholehah, dan cocok sebagai calon ibu yang tepat. Tentu konselor disini melakukan desputing (menentang) keyakinan irasional hingga menjadi rasional belief.
Untuk konseling berorientasi afektif, perubahan pada sisi afektif bisa merubah cara berpikir dan berperilaku konseli. Serta konseling berorientasi perilaku, jika perilakunya berhasil berubah maka cara berpikir dan afektif juga mengikuti.
Sangat menarik, dan tak lupa diawal kami saling mengenal satu sama lain, seperti pantun berikut:
Jalan-jalan entah ke mana…
Membawa uang hanya 20 ribu saja…
Halo, teman-teman semua!..
Saya Wikan mahasiswa baru S3 BK…
